Sedekah terbaik adalah sedekah yang sudah dijelaskan oleh nabi didalam hadistnya .Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Dan mulailah memberikan sedekah kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu”. (HR. Al-Bukhari no. 1426)
Dan dalam riwayat Muslim no. 1716 dari Hakim bin Hizam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَوْ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ
“Sedekah yang paling utama atau paling baik adalah sedekah yang diberikan ketika ia mampu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan dahulukanlah pemberian itu kepada orang yang menjadi tanggunganmu.”
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Maka beliau menjawab:
أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
“Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin, dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu menunda sedekah, hingga nyawamu sampai di tenggorokan, barulah kamu berkata, “Ini untuk si fulan dan ini untuk fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si fulan.” (HR. Al-Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1713)
Salman bin ‘Amir radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
“Sedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kaum kerabat adalah dua sedekah: Satu sedekah dan satu lagi menyambung silaturahmi.” (HR. Ahmad no. 17840, At-Tirmizi no. 658, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/604)
Penjelasan ringkas:
Semua sedekah itu adalah suatu kebaikan dan keutamaan, hanya saja ada sebagian bentuk sedekah yang lebih baik dan lebih utama dibandingkan sedekah yang lainnya. Sisi kelebihan ini lahir bisa saja dari sisi orang yang mengeluarkannya dan bisa dari sisi siapa yang menjadi sasaran sedekah itu.
Adapun bila sedekah baik dari sisi pemberinya, maka sedekah yang paling utama adalah jika dia bersedekah dalam keadaan dia sendiri tidak berkecukupan atau ketika dia sedang cinta-cintanya kepada harta. Adapun dari sisi sasaran sedekahnya adalah jika sedekahnya diberikan kepada orang miskin yang merupakan kerabat,keluarga atau orang yang berada di bawah tanggungannya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ
تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ وَلَا تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ
قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
“Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ’alaih wa sallam: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Kau bersedekah ketika kau masih dalam keadaan sehat lagi loba, kau sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, kau baru berpesan :”Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhary)
Sedekah yang terbaik kalau dari hadist diatas ada 4 macam yaitu
1 .Ketika keadaan sehat lagi loba alias berambisi mengejar keuntungan duniawi
Disaat orang yang terbaik dalam bersedekah ialah orang yang dalam keadaan sehat lagi loba alias tamak alias berambisi sangat mengejar keuntungan duniawi.Artinya, ia masih sangat muda lagi masa depan hidupnya masih dihiasi dengan aneka ambisi dan perencanaan untuk menjadi seorang yang sukses, mungkin dalam karirnya atau bisinisnya.
Dalam keadaan seperti yang ini biasanya seseorang akan merasakan begitu sulit dan enggan bersedekah karena segenap potensi harta yang ada pastinya ingin ia pusatkan dan curahkan untuk modal menyukseskan berbagai perencanaan bisnis dan proyeknya.
Dengan dalih/alasan masih dalam tahap investasi, maka ia akan selalu untuk menunda dan menunda niat baik bersedekahnya dari sebagian harta yang ia miliki. Karena setiap ia memiliki kelebihan harta walau sedikit , ia akan segera menyalurkannya ke dalam tabungan investasi bisnisnya.
Setiap uang yang ia miliki segera ia tanamkan ke dalam bisnisnya dan ia katakan ke pada dirinya bahwa jika ia bersedekah dalam tahap tersebut maka sedekahnya akan sangat sedikit dan lebih baik ditunda nanti saja dan bersedekah ketika nanti sudah sukses sehingga bisa bersedekah dalam jumlah ”signifikan” alias berjumlah yang banyak. Dan akhirnya ia tidak kunjung pernah mengeluarkan hartanya untuk sedekah selama masih dalam masa investasi tersebut.
2 .Ketika keadaan sangat ingin menjadi kaya
Mengeluarkan sedekah disaat keadaan sedang sangat ingin menjadi orang sukses/kaya. Nabi shallallahu ’alaih wa sallam seolah ingin menggambarkan bahwa orang yang dalam keadaan tidak ingin menjadi kaya berarti bersedekahnya kurang bernilai dibandingkan orang yang dalam keadaan berambisi menjadi kaya. Karena bila seorang yang sedang berambisi menjadi kaya bersedekah berarti ia bukanlah tipe orang yang hanya ingin menikmati kekayaan untuk dirinya sendiri.Ia sejak masih bercita-cita menjadi kaya sudah mengembangkan sifat dan karakter yang dermawan.Ini menunjukkan bahwa apabila Allah izinkan dirinya benar-benar menjadi orang kaya maka didalam kekayaan itu ia bakal selalu sadar ada hak kaum yang kurang bernasib baik yang perlu diperhatikan.
Juga kebiasaan bersedekah materi yang dikembangkan sejak seseorang baru pada tahap awal merintis bisnisnya, maka hal itu mengindikasikan bahwa si pelaku bisnis itu sadar sekali bahwa rezeki yang ia peroleh seluruhnya berasal dari Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah Ar-Razzaq.
Hal ini sangat berbeda dengan orang kaya dari kaum kafir semisal Qarun, misalnya. Qarun adalah tokoh orang kaya di zaman dahulu yang di dalam meraih keberhasilan bisnisnya menyangka bahwa kekayaan yang ia peroleh merupakan buah dari kepiawaiannya dalam berbisnis semata.
Ia tidak mau mengkaitkan kesuksesan dirinya dengan Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah swt.
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِ
“Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku".(QS Al-Qshshash ayat 78)
3 .Ketika keadaan sangat khawatir menjadi miskin dan
Ia sadar bahwa jika Allah menghendaki, maka sangat mungkin sekali dirinya menjadi kaya atau menjadi miskin. Itu terserah Allah. Yang pasti keadaan apapun yang dialaminya tidak mempengaruhi sedikitpun kebiasaannya bersedekah.
Ia sudah menjadikan bersedekah sebagai salah satu karakter penting di dalam keseluruhan sifat dirinya. Persis gambarannya seperti orang bertaqwa di dalam Al-Qur’an:
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
”… yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS Ali Imran ayat 133-134)
4 .Ketika dalam keadaan sudah menjelang maut/meninggal dunia dan bersiap-siap membuat aneka wasiat soal harta yang bakal terpaksa ditinggalkannya.
Nabi shallallahu ’alaih wa sallam sangat mewantan-wanti/menganjurkan agar umatnya jangan sampai sedekah menunggu saat maut susah datang karena sedekah sangat penting. Sehingga digambarkan oleh nabi bahwa ia baru mau menyuruh orang untuk mencatat siapa saja yang akan diberi sedekah ketika dia sedang dalam keadaan sakit atau sudah nazak.
Sedekah semacam ini tidaklah afdhal dikarenakan dia baru sedekah setelah keadaan terpaksa atau dia tidak punya pilihan lain terhadap hartanya kecuali ia sedekahkan dijalan Allah.
Sedekah saat diri seseorang ada pilihan antara sedekah atau tidak sedekah itu jauh lebih bermakna.
Itulah sebabnya Nabi shallallahu’alaih wa sallam lebih menghargai orang yang mau berbagi/bersedekah saat masih massa mudanya dari pada saat dia sudah tua.
Ya Allah, jadikanlah kami semua ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedekah yang paling afdhal. Terimalah, ya Allah, segenap infaq dan sedekah kami di jalanMu. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar